Bacaan: 1 Samuel 16:1-13
nas: “Lalu Samuel berkata kepada Isai: ‘Inikah anakmu semuanya?’ Jawabnya: ‘Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.’ Kata Samuel kepada Isai: ‘Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.’ (ayat 11)
Bagi saya, peran seorang ayah sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Bayangkan, jika saat kamu lahir, ayahmu tidak hadir untuk menyaksikanmu lahir ke dunia ini—seperti yang terjadi pada saya. Saat kecil, saya sangat jarang bertemu dengan ayah saya. Alasannya sederhana: ayah saya sering sekali dinas ke luar kota. Bahkan ketika ibu saya melahirkan, ayah tidak bisa menemani.
Ternyata, saat itu ayah sedang dinas di Lebanon untuk menjaga perbatasan. Mendengar cerita itu, saya sempat terdiam, karena itu adalah tugas yang berisiko tinggi, bahkan taruhannya adalah nyawa. Namun, saya tidak marah kepadanya, karena itu adalah bagian dari tugasnya: melindungi orang-orang yang tidak bersalah, seperti ibu, saya, dan adik-adik saya.
Saya yakin ayah sangat ingin melihat putranya yang pertama lahir ke dunia, tetapi ia tidak bisa karena tuntutan pekerjaannya. Hal ini mirip dengan kisah Isai dalam Alkitab. Ketika Samuel bertanya kepada Isai, “Inikah semua anakmu?” Isai menjawab, “Masih ada yang bungsu, tetapi ia sedang menggembalakan domba.” Samuel kemudian menyuruh Isai untuk memanggil anak bungsunya agar mereka bisa duduk dan makan bersama.
Walaupun ayat ini tidak secara langsung menggambarkan seorang ayah yang tidak dapat melihat anaknya lahir, kisah ini mencerminkan kenyataan bahwa terkadang pekerjaan atau tugas membuat seseorang tidak bisa hadir dalam momen-momen penting. Namun, harapan dan kesempatan tetap ada untuk membangun hubungan dan peran yang penting dalam kehidupan anak.
(Seorang mahasiswa Sastra Inggris yang biasa saja, tetapi ia memiliki mimpi untuk bisa menjadi lebih baik dari ayahnya.)
Patrick William
