Bacaan: YEREMIA 1:4-19
nas: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau; Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (ayat 1)
Ini adalah kisah tentang seorang anak bernama Rahmat. Suatu malam, seorang ibu berada di ambang kelahiran anaknya. Persalinan itu sangat sulit—ia kehilangan banyak darah, merasakan sakit yang luar biasa, dan harus mengonsumsi obat-obatan berat demi bertahan hidup. Dokter khawatir akan keselamatan sang ibu dan bayinya. Namun, meskipun peluangnya sangat kecil, ibu tersebut berhasil melewatinya, meskipun dalam keadaan sangat lemah dan hampir pingsan.
Saat dokter memeriksa bayi yang baru lahir, mereka memperkirakan adanya komplikasi serius. Mengingat kondisi ibu yang kehilangan banyak darah dan mengonsumsi obat-obatan kuat, bayi tersebut seharusnya tidak selamat, atau paling tidak lahir dengan gangguan kesehatan yang berat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bayi itu lahir dalam keadaan sehat sempurna, tanpa penyakit atau cacat sedikit pun. Hanya ada satu hal yang aneh: tubuhnya tertutup oleh bulu halus, membuatnya tampak seperti manusia setengah monyet. Namun, seiring berjalannya waktu, bulu itu menghilang, dan ia tumbuh seperti anak-anak lainnya.
Saat Rahmat semakin dewasa, ia mengetahui kisah ajaib tentang kelahirannya. Hal itu membuatnya terus bertanya-tanya: Mengapa aku lahir, padahal seharusnya aku mati di dalam kandungan ibuku?
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa rapuh, seperti seutas benang yang nyaris putus, namun entah bagaimana, kita tetap bertahan.
Di momen-momen itu, kita mungkin bertanya-tanya mengapa kita diberi kesempatan untuk hidup ketika segala sesuatu tampaknya berkata sebaliknya. Yeremia 1:5 mengingatkan kita bahwa keberadaan kita bukanlah sebuah kesalahan. Bahkan sebelum kita terbentuk, Tuhan sudah mengenal kita dan menetapkan tujuan bagi kita. Tidak peduli seberapa tidak pastinya awal kehidupan kita, kita ada di dunia ini karena suatu alasan—dipilih untuk sesuatu yang lebih besar dari yang kita pahami saat ini.
Setiap kehidupan memiliki makna, bahkan ketika dunia menganggapnya mustahil atau tidak berarti.
Rahmat
