Hampir Saja Bertemu Tuhan

Bacaan: Yesaya 55:6-7
nas: Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! (ayat 6)

Setiap hari, aku naik motor ke kampus. Baik cuaca panas maupun hujan, jalanan macet atau lancar, bahkan kadang aku pergi ke kampus di malam hari. Bukan karena aku suka, tapi karena yang bisa dibeli ya motor saja, hehehe. Motor itu kendaraan yang fleksibel juga, walau macet, tetap bisa salip sana-sini (jangan dicontoh ya, bahaya).

Walaupun sudah tahu bahaya, aku masih tetap melakukannya. Pernah suatu malam, saat jalanan sepi, tiba-tiba ada mobil yang mau putar balik. Aku yang sedang bengong, terpaksa harus mengembalikan fokus karena hampir saja nabrak, kira-kira ada jarak 1 cm antara motor dan mobil.

Sepanjang jalan aku jadi overthinking, “Nanti kalau aku mati, gimana ya reaksi orang terdekat?”, “Gimana caranya kasih tahu password m-banking supaya sisa duitnya bisa diberikan semua ke keluarga?”, bahkan sampai mikir, “Aduh perlu nggak ya aku bikin surat wasiat?”.

Kejadian-kejadian yang hampir berujung maut bisa bikin kita mikir, “Kayaknya aku kebanyakan dosa deh, makanya aku ditegur lewat kejadian kayak gini,” atau “Tuhan sebaik itu ya sama aku, sampai masih dikasih waktu buat bertobat?”

Yesaya 55:6-7 berkata, kita bisa selalu berkomunikasi dengan Tuhan, baik dalam keadaan baik-baik saja maupun tidak baik-baik saja. Doa kepada-Nya bukan hanya tentang meminta, tetapi juga mengucapkan rasa syukur atas apa yang terjadi hari ini. Membuat hari yang kita lalui sebagai pelajaran, bukan untuk disesali. Doa juga digunakan untuk meminta pengampunan-Nya atas dosa yang kita lakukan selama ini.

Tuhan memang sudah menebus dosa kita, kita tidak perlu lagi melakukan cara lama dengan memberikan korban berupa hewan, tetapi itu justru mendekatkan Tuhan dengan kita. Tuhan tidak ingin ada jarak yang terlalu jauh antara diri-Nya dan manusia, melainkan Ia ingin kita menjadi teman yang selalu mengandalkan-Nya. Itulah yang menjadikan kita pribadi yang lebih menghargai diri kita dengan selalu belajar memperbaiki diri.

Kita sebagai manusia harus memiliki rasa peka terhadap setiap kejadian, karena setiap kejadian adalah alasan Tuhan untuk membuat kita berkarya dalam hidup, baik untuk diri sendiri, orang lain, maupun Tuhan.

Willi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *