Bacaan: Yeremia 31:1-19
Nas: “Sungguh, sesudah aku berbalik, aku menyesal […] aku merasa malu dan bernoda, sebab aku menanggung aib masa mudaku.”
Waktu itu saya sedang di semester “muda” di dunia perkuliahan, dan di saat itu pula saya sedang melewati berbagai peristiwa yang rumit, dan tak jarang saya merasa emosi. Namun di suatu malam, anjing peliharaan saya mendatangi saya dengan memijakkan kakinya secara perlahan. Kemudian ia menekan dan mengusap kepalanya ke bagian paha saya sembari menghela nafas yang panjang. Di saat itu saya sedang duduk di tangga teras rumah.
Seketika ada gelombang perasaan sedih yang dirasakan batin saya. Saya merasa bahwa saya tidak merawat dia dengan ketulusan yang penuh. Tentunya saya mengajak dia bermain dan bercanda bersama dengan “teman-temannya” yang lain di rumah, namun ada semacam rasa kekurangan yang tidak sempat saya berikan, dan itu membekas di dalam batin saya. Saya selalu ingat dirinya suka berkelahi kecil-kecilan dengan teman-temannya namun ia selalu baik dan setia terhadap saya.
Mungkin dia ingin memberitahu kalau ia sedang merasa sakit yang mendalam, karena waktu itu ia sedang menderita penyakit genetik yang tidak dapat disembuhkan dengan mudah. Hari-hari setelah itu, saya mengajaknya bermain, bercanda, dan mengawasinya. Kemudian beberapa minggu setelah itu ia pergi untuk selamanya.
Saya merasakan kesedihan yang mendalam di saat ia pergi untuk selamanya karena dia selalu dekat dengan saya sejak SMP. Yang saya rasakan di diri saya hingga seminggu adalah rasa kekecewaan dan bersalah. Walaupun ia seekor binatang tentu layak diberi perhatian yang hampir setara dengan seorang manusia. Seekor binatang juga memiliki perasaan seperti kita dan sudah sepatutnya sesama makhluk hidup saling membantu.
Sekarang, saya telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih perhatian terhadap hewan peliharaan saya. Saat ini, saya memiliki seekor anjing dengan ras campuran antara Corgi dan Siberian Husky. Yang mengejutkan, pola bulunya hampir sama dengan anjing saya yang telah tiada. Saya merasa seolah-olah ini adalah pesan dari Tuhan—mungkin sebuah kesempatan kedua agar saya lebih bertanggung jawab dalam merawat hewan peliharaan, atau bahkan sebuah teguran yang keras. Bagaimana mungkin anjing saya yang sekarang memiliki pola bulu yang 99% mirip dengan peliharaan saya sebelumnya?
Walaupun sudah lama berlalu, jika saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, maka saya akan melakukan yang terbaik untuknya. Pelajaran hidup yang dapat saya ambil dari peristiwa tersebut adalah untuk melakukan yang terbaik setiap saatnya untuk orang yang kita sayangi dan cintai, karena kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita dapat berjumpa dengan mereka.
(Seorang mahasiswa Sastra Inggris yang gemar membaca sejarah dan berusaha menjalani hidup dengan tidak terburu-buru.)
Mulia Yoel
