Hidup untuk Dia

Bacaan: Yohanes 1: 6 – 14
nas: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (ayat 12)

Hari ini aku merenung tentang hidupku dan firman dalam devotion hari ini. Awalnya, aku hanya berpikir, “Iya, aku ingin jadi orang percaya yang hidupnya berubah dan mengarahkan hidupku ke firman Tuhan.” Tapi setelah aku renungkan lebih dalam, aku menemukan sesuatu yang baru.

Aku pernah dengar ada orang bilang bahwa di Alkitab, Yohanes menggunakan kata kerja “percaya” (pisteuo) daripada kata benda “iman” (pistis). Ini berarti iman bukan sekadar kepercayaan atau konsep, melainkan sebuah tindakan.

Iman yang sejati bukan cuma soal percaya Yesus itu Tuhan dan bahwa Dia sudah berkorban untuk kita. Iman sejati itu soal kita benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, menyangkal diri, dan terus berusaha mendekat kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Jadi, iman bukan hanya merasa “aku percaya Yesus,” tapi benar-benar menunjukkan itu lewat cara kita hidup—dengan taat, berubah, dan mengikuti-Nya setiap hari.

Waktu aku merenungkan ini, aku sadar kalau selama ini aku sering berpikir, “Yang penting hatiku benar, yang penting aku percaya, itu sudah cukup.” Tapi kenyataannya, aku jarang benar-benar bertindak untuk berubah atau bertobat seperti yang seharusnya aku pelajari. Tuhan adalah terang dalam hidup kita, dan firman-Nya seharusnya menjadi pegangan kita. Namun, justru sering kali, aku malah lebih sering mengabaikan-Nya, padahal Dia adalah Pribadi yang paling mengasihiku.

Aku sadar bahwa aku harus berhenti merokok dan berhenti mencari alasan untuk membenarkan kesalahanku dengan berpikir, “Tuhan pasti mengerti.” Aku terus jatuh, kehilangan harapan, dan kehilangan impian. Namun, Tuhan mengutus Yesus agar kita bisa diangkat menjadi anak-anak-Nya, agar kita memiliki harapan, bisa percaya, menjalani firman-Nya, dan menerima keselamatan. Aku bersyukur karena meskipun aku penuh dosa, meskipun hatiku sering melenceng dari firman-Nya, aku masih punya harapan. Aku masih bisa berjalan bersama Kristus, bertumbuh dalam pertobatan, dan hidup sesuai dengan firman-Nya.

(A 21-year-old student who’s living for the hope of it all. Jakarta.)

Amelia Listiany

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *